P3LKT UNRAM dan LPPM UNSA Ciptakan Petani Sehat

Permasalahan petani di seluruh Indonesia terutama di NTB termasuk Kabupaten Sumbawa akan terjawab. Bahkan diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan para petani akan berjaya dan menjadi orang kaya baru (OKB). Hal ini bisa terjadi, menyusul hasil penemuan Pusat Penelitian dan Pengembangan Lahan Kering Tropika (P3LKT) Universitas Mataram (UNRAM) yang mampu menciptakan pupuk cair yang terbuat dari bahan alami. Adalah Pupuk Silikat Plus

(Si Plus)—pupuk yang terbuat dari batuan silikat dan volkanik, yang merupakan hasil penelitian panjang Ir Joko Priyono M.Sc, Ph.D—dosen sekaligus Ketua P3LKT UNRAM.

Untuk menyampaikan khabar gembira bagi para petani ini, P3LKT UNRAM bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Samawa (UNSA), melakukan ujicoba penggunaan Pupuk Si Plus di lahan seluas 800 hektar yang tersebar di sejumlah lokasi, salah satunya Desa Serading Kecamatan Moyo Hilir. Hasil ujicoba itu kemudian diekspos di hadapan puluhan Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) di Aula Kantor BP4K Kabupaten Sumbawa, Kamis (3/4) yang ditindaklanjuti dengan kunjungan lapangan mengajak semua PPL dari 24 kecamatan di wilayah Desa Kakiang dan Desa Serading Kecamatan Moyo Hilir.

Dalam kegiatan itu, Ir Joko Pri—akrab jebolan Universitas Western Australia ini mengemukakan, penelitian panjang yang dilakukan sejak Tahun 1991 ternyata membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini berangkat dengan kerap munculnya permasalahan yang menimpa petani di Indonesia terutama di NTB khususnya lagi di Kabupaten Sumbawa. Petani kerap mengalami gagal panen karena tanamannya diserang hama dan penyakit tanaman (HPT). HPT ini muncul hampir setiap musim tanam, membuat para petani merugi bahkan tidak sedikit terlilit utang dan kondisi ini sangat memprihatinkan. Untuk memberantas HPT, para petani menggunakan semprotan pestisida sintetis yang bersifat membunuh HPT. Tapi upaya ini tidak menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya cenderung menimbulkan masalah. Sebab seiring dengan penggunaan pestisida yang semakin meningkat, muncul antrian panjang di rumah sakit karena banyak warga yang menderita sakit akibat ‘makanan’. Jika dikaitkan, hasil pertanian berupa beras yang dikelola menjadi nasi dan dikonsumsi masyarakat ini secara tidak langsung telah terkontaminasi dengan zat kimia dari pestisida yang disemprot dengan tujuan membunuh HPT. “Selama ini kita tidak menyadari mengkonsumsi nasi untuk kenyangnya saja, bukan untuk sehatnya. Jadi jangan melindungi tanaman dengan cara membunuh organisme (HPT) dengan racun, tetapi sehatkan dan lindungi tanamannya dengan mengusir HPT, sehingga tanaman tahan terhadap serangan HPT serta cekaman faktor lingkungan lain,” kata Joko Pri.

Karena itu muncul idenya untuk menciptakan pestisida nabati yang bersifat mengusir dan memandulkan populasi HPT. Dari hasil penelitiannya berhasil menemukan Pupuk Silikat Plus (Si Plus).

Pupuk ini diproses tanpa menggunakan bahan kimia yang bereaksi keras. Selain mengandung unsur silikat (Si) yang tinggi, Pupuk Si Plus mengandung semua unsur hara esensial bagi tanaman dengan komposisi yang berimbang. Untuk itu penggunaan pupuk tersebut dijamin aman dan ramah lingkungan, serta menghasilkan produk pangan yang sehat.

Lebih jauh dijelaskan Joko Pri, hasil uji laboratorium dan lapang yang dilakukan selama ini, penggunaan Pupuk Si Plus, sangat efektif untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman pangan dan holtikultura. Dengan pupuk ini, dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan, mengurangi efek racun dari garam ataupun kadar logam berat yang tinggi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Serta, meningkatkan efisiensi proses fotosintesis dan penggunaan air, dan meningkatkan bobot dan bulir padi, jagung dan kacang-kacangan, maupun daya simpan buah pada tanaman holtikultura (cabe, tomat dan lainnya) agar tidak cepat membusuk, dan rendeman gula pada tanaman tebu.

“Pupuk Si Plus adalah pupuk daun, sehingga cara penggunaannya dengan disemprotkan merata ke permukaan daun/dan batang tanaman,” tambahnya.

Di bagian lain Ir Joko Pri menyinggung soal pemasaran Pupuk Si Plus. Selain di Indonesia, Ia mengaku telah menjalin kerjasama dengan eksportir luar negeri yakni Mr Jean Louis Voorjans—pemilik PT Innovation Through Quality (ITQ) asal Belanda. “Sudah terbangun kerjasama dan komitmen, karena eksportir ini sangat tertarik dan akan memasarkan produk ini ke seluruh dunia,” ujarnya bangga, seraya menyatakan kerjasama itu akan direalisasikan Agustus 2014 ini.

Keunggulan Pupuk Si Plus ini, diakui Biawan, petani asal Desa Serading Kecamatan Moyo Hilir. Dalam testimoninya, Biawan mengaku awalnya merasa ragu menggunakan pupuk tersebut karena cairannya bening. Meski demikian dia mencobanya di lahan seluas 30 are yang dibagi dalam tiga petak. Secara tak terduga hasil panen padinya meningkat drastis. Sebelum menggunakan Pupuk Si Plus hasil panennya hanya 27 karung, saat ini meningkat menjadi 41 karung. Selain meningkat, tanaman padinya juga kebal terhadap penyakit. Keajaiban Si Plus juga dialami Keri—ipar Biawan yang juga tinggal di Desa Serading. Keri sudah angkat tangan melihat kondisi padinya yang diserang penyakit atau disebut penyakit kuning, merah dan putih. Keri sudah memastikan pada musim tanam kemarin mengalami gagal panen. Beruntung Biawan memperkenalkan sekaligus memberikan dua botol Pupuk Si Plus kepadanya, serta mengajari cara penggunaannya. Saat panen tiba, Keri tersenyum sumringah karena hasil panennya bisa mencapai 30 karung. Dia awalnya hanya berharap padinya yang sempat terserang penyakit bisa menghasilkan 5-6 karung.

UNSA Jadi Pelopor Ciptakan Petani Sehat

Di tempat yang sama LPPM UNSA selaku mitra mengaku sangat bangga dengan lahirnya produk pupuk baru yang dipastikan aman, ramah lingkungan dan memiliki manfaat lebih bagus dari pupuk jenis lainnya. Ketua LPPM UNSA, Ikhlas Syuhada SP., M.Si bahkan sangat yakin dengan adanya temuan ini menjadi awal bangkitnya pertanian bukan hanya di Sumbawa ataupun NTB namun Indonesia pada umumnya.

“Pupuk Si Plus ini adalah solusi bagi para petani. Selain memiliki manfaat yang sangat besar, pupuk ini juga tidak membutuhkan biaya besar. Para petani yang biasanya mengeluarkan anggaran di atas 1 juta dalam satu hektar lahan, dengan pupuk SiPlus hanya mengeluarkan anggaran sekitar 400 ribu per hektar,” ungkapnya. Hasilnya juga sangat luar biasa. Setiap satu hektar lahan yang produksinya hanya sekitar 6 hingga 7 ton, setelah menggunakan Pupuk Si Plus dapat mencapai 10 ton—12,35 ton. Tidak hanya itu, Si Plus juga bermanfaat untuk tanaman Holtikultura. Seperti cabai dapat bertahan hingga 10 hari tidak busuk. Bahkan Cabai yang biasanya ukuran satu plastik satu kilogram, dengan pupuk Si Plus hanya setengah plastik. “Kacang panjang buahnya bisa satu meter. Buah mentimun di samping besar juga banyak. Ini adalah buktinya hasil di lapangan. Para petani yang telah menggunakan sangat puas dan sama sekali tidak ada keluhan,” katanya.

Menurut AT—akrab dosen ramah ini disapa, dengan adanya kerjasama ini UNSA ke depan diharapkan menjadi salah satu pelopor untuk menciptakan petani yang sehat, mandiri, sejahtera dan tangguh. Bahkan saat ini LPPM UNSA tengah berupaya untuk menciptakan pakan ternak berkualitas, melalui penggunaan Pupuk Si Plus.

Share Now

Related Post

Leave us a reply