Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar M.Pd Sebagai Narasumber Dalam Acara Kunjungan Diplomat 9 Negara di Kabupaten Sumbawa

Samawarea.com – Interfaith Dialog yang berlangsung di Istana Dalam Loka Sumbawa berlangsung seru. Dari dialog yang dipandu Darianto Harsono—Deputi Direktur Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri RI, para Diplomat dari 9 negara yang tergabung dalam Sesparlu Internasional ke-20 ini bertukar informasi terkait dengan keberagaman dan kerukunan. Mereka ingin belajar tentang kerukunan di Kabupaten Sumbawa.

Rektor Universitas Samawa (UNSA), Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar M.Pd dalam kesempatan itu, mengatakan, isu kerukunan umat beragama sudah lama dibicarakan. Secara naluri, harapan bangsa ingin hidup aman, damai dan tenteram. Realitas yang ada, bahwa Indonesia lebih khususnya Kabupaten Sumbawa didiami multi etnis. Tidak gampang mengurus perbedaan suku, adat, dan agama. Ini masalah rumit dan kompleks. Jika salah urus akan berbahaya, apalagi sudah menyangkut isu agama yang dinilai rawan menimbulkan konflik. “Sumbawa sudah pernah mengalaminya, terjadi konflik karena isu agama,” kata Prof Ude—sapaan Rektor UNSA ini.

Konflik ini sebenarnya tidak akan terjadi, apabila nilai lokal yang dianut Tau Samawa (masyarakat Sumbawa) tidak diganggu. Tiga nilai yang menjadi pondasi itu adalah harta, wanita dan agama. Meski demikian, Tau Samawa sangat welcome terhadap para pendatang. Tau Samawa juga memiliki rasa toleransi yang tinggi. Tidak heran jika siapa saja yang datang dan menetap serta berusaha di Tana Samawa ini akan tenang dan aman karena dianggap sebagai saudara. Secara umum Sumbawa dinyatakan sebagai daerah yang paling kondusif di NTB. Ini tidak terlepas dari peran para pendahulu yang meletakkan rasa toleransi dan memelihara kerukunan. Karena itu di Sumbawa sejak jaman dulu terdapat nama-nama kampung yang masih lestari sampai saat ini. Nama kampung itu dulunya disesuaikan dengan suku atau etnis yang mendiaminya. Ada Kampung Bugis, Kampung Bima, Kampung Jawa, Kampung Timor, Kampung Irian, Kampung Lombok, Kampung Bali, Kampung Madura dan kampung lainnya. Meski berasal dari etnis yang berbeda, mereka diakui sebagai Tau Samawa. Peran pemerintah selalu memfasilitasi kepentingan antar umat beragama. Dan hal ini menurut Prof Ude, sudah dilaksanakan dengan mempererat tali silaturahim antar umat beragama.

Sementara Ketua FKUB (Forum Kerukunan Antar Umat Beragama), Drs. H. Umar Hasan menambahkan, salah satu solusi untuk tetap menjaga kerukunan dalam keberagaman ini, dibentuk FKUB. Segala persoalan yang berkaitan dengan hubungan antar umat beragama dibahas dan diselesaikan di forum ini. “FKUB Sumbawa dibentuk 2006 lalu sebagai wadah untuk berdialog dan memecahkan masalah guna disampaikan kepada pemerintah,” ungkap Haji Umar Hasan.

Masyarakat Kabupaten Sumbawa mayoritas beragama Islam. Data 2013 tercatat selain Islam ada Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan aliran Kepercayaan. Agama mengajarkan perdamaian, hidup dunia dan akhirat. Dengan semangat itulah setiap ada masalah langsung dibahas dalam pertenuan untuk diselesaikan. Dari forum ini juga lanjut Haji Umar Hasan, dipaparkan apa yang tidak dan boleh dilakukan sebagaimana adat dan budaya di daerah ini. Mengenai persoalan ekonomi, Sumbawa selalu terbuka. Semua bersaing tanpa benturan.

Penjelasan Rektor UNSA dan Ketua FKUB Sumbawa ini mendapat tanggapan beragam dari para diplomat. Adalah Miss Yen Nguyen—Diplomat dari Vietnam, menyampaikan terima kasih dan menyatakan kekagumannya pada komitmen semboyan Sabalong Samalewa. Ia juga mengapresiasi adanya FKUB yang menjadi wadah dan jembatan bagi umat beragama dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat. Untuk diketahui di Vietnam terdapat puluhan etnik. Klompok suku terbesar adalah Suku King. Etnik yang berada di luar berupaya berinteraksi dengan Suku King dengan mengirim guru agar anak-anak dari Suku King memiliki pengetahuan yang mumpuni. Untuk agama, mayoritas Budha. Agama sudah termodifikasi dengan mempraktekkan kebiasaan nenek moyang. Mendengar paparan soal kerukunan di Sumbawa, Miss Yen mengaku banyak belajar dari forum ini. “Kami akan merekomendasikan kepada pemerintah untuk membentuk FKUB di Vietnam,” ujarnya.

Mr. Francisco Dionisio Fernandes dari Timor Leste mengaku masyarakatnya belajar banyak dari Indonesia mengenai kerukunan beragama. Di Timor Leste tidak ada masalah etnik meski Perdana Menteri mereka beragama Muslim. Yang menjadi persoalan di sana adalah kesejahteraan. “Dulu ketika masih menjadi bagian dari Indonesia, banyak guru dari NTB mengajar di Timor-timor. Ke depan kami akan jadikan Sumbawa menjadi destinasi wisata sekaligus tempat menimba ilmu terkait kehidupan masyarakat dan kerukunan antar umat beragama,” ucapnya.

Kemudian Mr. Heng Sophea dari Kamboja menyatakan bahwa kerukunan sangat penting. Dengan kerukunan maka akan lahir kedamaian. Di Kamboja mayoritas masyarakatnya beragama Budha, dan sebagian kecil muslim dan agama lainnya. Tapi mereka bisa hidup berdampingan dan saling menghormati. Mereka juga saling berbagi.

Mr. Daniel Heldon dari Australia mengatakan bahwa masyarakat Australia adalah masyarakat majemuk yang sukses. Meski berbeda mereka hidup dalam harmoni. Saat kejadian Bom Bali, banyak korban dari Negara Australia. Dan pemerintah mencoba untuk bergerak supaya kasus itu disikapi dengan baik. Hal pertama dilakukan Kemenlu Australia adalah memulai pertemuan tokoh agama di Indonesia. Ini dilakukan agar peristiwa itu tidak berpengaruh di Australia yang berdampak terhadap intoleransi. Australia mengakui hak beragama dan hak asasi manusia. Itu dilindungi hukum di Australia. Karena itu di Australi ada lembaga semacam Komnas HAM yang menerima pengaduan ketika ada masalah.

Mr. Dubravko Zirovcic dari Kroasia mengapresiasi kerukunan beragama di Kabupaten Sumbawa. Ini sangat terasa dengan sikap keramah-tamahan masyarakatnya dalam menyambut setiap tamu yang datang. “Kami anggota Uni Eropa saling menghargai satu sama lain. Komunitas muslim berhubungan baik dengan pemerintah, sebagaimana perlakuan masyarakat Sumbawa yang mayoritas muslim terhadap etnis atau umat agama lainnya,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Miss Maria Del Carmen Bernal Ledesma dari Meksiko. Ia sangat menghargai sambutan hangat masyarakat Sumbawa. Sebagaimana Sumbawa, Meksiko sangat menghargai seluruh etnik yang ada.

Mr. Thatsaphone Noraseng dari Laos menjelaskan bahwa penduduk Laos mencapai 6,5 juta dan terdiri dari 49 suku dengan agama Budha sebagai agama mayoritas. Kendati demikian Konstitusi Laos menghargai kerukunan beragama.

Mr. Choo Won Hoon dari Korea Selatan mengatakan bahwa peristiwa yang dialami warga Korsel yang dipancung tentara Irak dan Afganistan ketika perang berkecamuk, tidak mempengaruhi kerukunan beragama di Korsel. Pemerintah Korsel melindungi semua warganya meskipun memiliki perbedaan keyakinan.

Terakhir, Miss Sandar Tin dari Myanmar, mengaku terkesan dengan sambutan hangat masyarakat Sumbawa. Selain itu suasana Sumbawa yang tenang dan damai. Ini menggambarkan masyarakatnya hidup rukun, meski dari informasi yang diperoleh terdiri dari beragam suku dan agama.

Darianto Harsono—Deputi Direktur Direktorat Amerika II Kementerian Luar Negeri RI, mengatakan salah satu alasan 30 diplomat dari 9 negara datang ke Kabupaten Sumbawa adalah belajar tentang kerukunan beragama dan beragam etnis. Para diplomat ini menilai Sumbawa sukses menjaga kerukunan antar umat beragama maupun 19 etnis hidup berdampingan secara damai.

Darianto menjelaskan Diplomat dari Meksiko, Kroasia, Australia, Vietnam, Laos, Myanmar, Timor Leste, Kamboja dan Korea Selatan yang tergabung dalam Sesparlu Internasional Kemenlu Republik Indonesia ke-20 ini ingin mengenal lebih jauh adat istiadat Samawa yang dikenal sangat welcome terhadap pendatang. “Inilah salah satu alasan kita ingin ke Sumbawa dan belajar banyak tentang sebuah kerukunan,” pungkasnya. (JEN/SR)

Leave us a reply